Menulis usulan penelitian, merupakan bagian yang menentukan dalam proses penelitian. Penulis harus mengerahkan segala kemampuannya untuk dapat mempresentasikan keinginannya dalam proposal tersebut. Karena proposal penelitian merupakan sebuah usulan, didalamnya mestilah mengandung unsur-unsur yang bisa meyakinkan pembaca, funding, atau agen yang akan membiayai usulan penelitian. Penulis harus tahu apa yang hendak dicari, dan bagaimana dapat mengenali hal itu.

Ada banyak tekhnik dan sistematika dalam penulian proposal penelitian, dalam hal ini, sistematika yang disusun oleh Tucman, dapat dijadikan sebagai acuan yang cukup komprehensip.

MENULIS PROPOSAL PENELITIAN

cara-menulis-proposal-penelitian

1. PROPOSAL PENELITIAN

Pada dasarnya, proposal penelitian terdiri dari dua bagian besar, yakni bagian pendahuluan dan bagian metode. Dua bagian ini, nantinya akan sinergis dengan dua bagian awal dari laporan penelitian. Bila proposal tersebut ditulis dengan bahasa Inggris (atau bahasa yang mengenal perubahan waktu dalam sistem gramatikanya), perbedaannya hanyalah pada model penulisannya. Penulisan proposal penelitian menggunakan kalimat-kalimat present, sedangkan laporan penelitian menggunakan susunan kalimat past.

1.1. PENDAHULUAN

Pendahuluan bagaikan kepala dari proposal penelitian, sehingga harus diusahakan tidak mengandung unsur-unsur bias, yang pada akhirnya hanya melemahkan proposal yang akan diajukan. Furqan (1982: 450) mengingatkan, bahwa bukannya tidak mungkin bila usulan penelitian ditolak karena pendahuluannya jelek dan tidak ditulis dengan cermat.

Didalam pendahuluan, penulis haruslah manuliskan masalah penelitiannya dengan jelas dan tidak meragukan, kemudian menghubungkannya dengan informasi yang ada di lapangan, serta menunjukkan penting dan perlunya penelitian tersebut dilakukan. Penulis harus dapat menjelaskan maksud dari penelitiannya, berdasarkan tinjauan kepustakaan yang pernah ada, baik secara teori maupun penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Memberikan dasar-dasar terhadap hipotesis serta dapat menguraikannya baik berupa konsep maupun langkah-langkah operasionalnya.

1.1.1. Konteks Permasalahan Penelitian

Pada dua paragraf pertama pendahuluan, penulis proposal perlu menyampaikan masalah yang sedang dihadapi. Untuk dapat memperkuat pentingnya permasalahan tersebut penulis dapat menguraikan latarbelakang masalah secara gamblang, sehingga pembaca dapat menangkap permasalahan tersebut dan bisa memahami signifikansinya. Sumber kepustakaan yang kuat, serta nilai kapabilitasnya tidak diragukan, dapat dijadikan sebagai sumber penguat terhadap permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian.

Contoh berikut diambilkan secara langsung dari Tuckman (1972: 310), untuk memberikan ilustrasi terhadap konteks permasalahan dalam pendahuluan:

Meski telah dilakukan banyak riset mengenai pengaruh instruksi televisi (Ball &Bogatz, 1970, 1973; Bogatz &Ball, 1971; Chu &Schramm, 1967; Jamison, Suppes, &Sumur-sumur, 1974; natalicio & Williams, 1971; Standford, 1973; Williams, Van Wart, Stanford, 1973), dan meski hasil dari riset tersebut (Bandura &Walters, 1963) mengindikasikan bahwa anak-anak suka meniru perilaku-perilaku artis film, kebanyakan penelitian tersebut hanyalah menelit dan terfokus pada hasil atau efek yang ditimbulkan oleh televisi. Hanya sedikit yang tahu bagaimana anak-anak bertindak selama mengamati televisi (Sproull, 1973) atau bentuk perilaku-perilaku yang ditimbulkan oleh jenis-jenis yang tertentu dari acara yang ditayangkan di televisi (Laosa, 1974). Juga, hanya sebagian kecil yang mengetahui mengenai perilaku anak-anakberdasarkan perbedaan susila dan latar belakang ekonomi-sosial. [Laosa, 1976, p.133]

1.1.2. Pernyataan Permasalahan Penelitian

Menyatakan permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian, merupakan hal penting yang dapat membantu pembaca dengan cepat memahami maksud penelitian. Dengan menuliskan pernyataan permasalahan pada bagian-bagian awal pendahuluan, pendahuluan akan menginformasikan secara tegas masalah yang diangkat, dan tidak hanya uraian belaka. Hal itu untuk menghindari kebingungan pembaca terhadap uraian permasalahan yang telah disebutkan, atau paling tidak dapat memastikan pembaca lebih cepat menangkap permasalahan tersebut. Sederhananya, sebagaimana pendapat Furqan (1982: 450-451), pernyataan permasalahan berupa pertanyaan-pertanyaan yang jelas dan langsung tentang masalah yang akan diteliti.

Dalam pernyataan permasalahan, dapat disebutkan pula beberapa penyelidikan yang mengarah langsung kepada masalah tersebut. Bila masalah tersebut timbul dari pengalaman penulis, maka hal itu dapat dijelaskan secara singkat pada bagian ini. Penggunaan istilah dalam penelitian yang mungkin masih belum diketahui oleh pembaca, atau sengaja ingin diberikan arti secara khusus oleh penulis, harus dijelaskan. Sehingga pembaca tidak mendapati term yang bias atau tidak mudah dimengerti.

Contoh:

Masalah 1

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memastikan, apakah seorang gadis yang merencanakan untuk lebih mengejar karir dalam sain lebih agresif, dominan, lebih independen, susah menyesuaikan diri, dan mempunyai usaha lebih besar untuk mencapai sukses daripada gadis yang tidak memiliki kaingin berkariri dibidang sain. (Tuckman 1972: 313)

1.1.3. Tinjauan Pustaka Penelitian

Tujuan dari tinjauan ulang literatur adalah untuk memperluas konteks dan latar belakang dari studi, untuk membantu lebih lanjut menggambarkan masalah, dan untuk menyediakan satu dasar empiris bagi pengembangan hipotesis. Panjang tinjauan ulang itu akan tergantung pada banyaknya relevan artikel-artikel yang tersedia dan tujuan di mana laporan riset itu sedang ditulis. Untuk penulisan disertasi biasanya membutuhkan literatur lebih banyak daripada artikel dalam jurnal.

Daftar literatur yang dipakai dapat disusun sedemikian rupa, sehingga pembaca dapat mengetahui dengan mudah, buku-buku apa saja yang relefean dan digunakan dalam penelitian tersebut. Bisa juga diuraikan secara singkat, mengenai tujuan dan hasil studi dari tiap-tiap buku tersebut, setelah judul bukunya. Hal ini untuk lebih meyakinkan bahwa penelitian yang sedang dilakukan, berdasarkan kepada buku-buku yang menunjang.

Tidak semua penyelidikan yang relevan perlu dibahas dengan terperinci, penulis proposal dapat menjelaskan penelitian yang relevan saja, kemudian mengatakan bahwa hasil penyelidikan itu juga dikuatkan oleh penyelidikan yang lain. Peneliti pemula seringkali menganggap bahwa hal yang akan ditelitinya adalah hal yang unik, dianggap bahwa belum pernah ada laporan yang menjelaska mengenai permasalahan yang akan ditelitinya. Padahal, kejadian seperti itu jarang sekali terjadi. Setidaknya Furqan (452) menunjukkan bahwa dengan pencarian yang lebih seksama, hampir akan selalu dapat ditemukan beberapa laporan penelitian yang berhubungan, atau bahkan benar-benar sama.

1.1.4. Statemen Hypotesis Penelitian

Hypoteses dikembangkan untuk menguraikan hubungan-hubungan yang diantisipasi antara variabel-variabel. Hipotesis membantu fokus pada penelitian dan untuk memberikan arah yang pasti. Sehingga membuat usulan penelitian mudah diikuti. Hipotesis tidak perlu dinyatakan secara operasional, akan tetapi dengan pernyataan-pernyataan yang jelas.

1.1.5. Signifikansi Penelitian

Pembaca proposal penelitian biasanya memperhatikan relevansi permasalahan baik secara praktis maupun teoritis. Banyak nilai difokuskan dalam melakukan penelitian yang memiliki nilai primer dan sekunder sebagai suatu solusi yang diorientasikan secara praktis untuk permasalahan pada dunia pendidikan. Di samping itu juga karena adanya kebutuhan dalam pendidikan untuk pembentukan dan verifikasi dari teori-teori dan model-model yang ada. Selain itu, penting bagi peneliti untuk mengindikasi nilai atau signifikansi permasalahan serta menemukan hipotesis yang baik untuk dunia pendidikan, secara praktis maupun teoritis.

Berikut beberapa contoh signifikansi penelitian:

Contoh 1:

Pertanyaan mengenai kompetensi guru dalam proses ilmiah memerlukan penelitian lebih lanjut. hasil dari pendidikan non-formal dan pengalaman perlu untuk dipastikan. Kebanyakan pendidik lebih mengarahkan usaha penelitian mereka pada pelatihan guru-guru pada sekolah menengah pertama daripada guru-guru sekolah dasar. (Tucman, 1972:319)

1.2. METODE

Berikut ini adalah seperangkat kategori yang disarankan untuk menggambarkan metode dan prosedur baik pada proposal maupun laporan penelitian.

1.2.1. Subjek

Bagian ini digunakan untuk mengindikasi siapa saja yang terlibat di dalam penelitian dan berapa banyak jumlah mereka. Jika relevan, bagian ini sebaiknya juga mengindikasi apakah subjek tersebut sukarelawan, bagaimana mereka terpilih, apa karakteristik mereka. Jenis karakteristik meliputi jenis kelamin, usia, tingkatan, I. Q.. Semua dasar yang potensial dalam pemilihan yang menimbulkan bias ditanggulangi oleh variabel kontrol sebaiknya dimasukkan pada bagian ini.

Perhatikan contoh-contoh berikut ini:

Total subjek sejumlah 72 anak-anak sekolah dari kelas menengah, berkulit putih, dan suburban terrdiri dari 12 anak laki-laki dan 12 anak perempuan dari setiap tingkatan (dua, empat, dan enam). Tes berupa Stanford Reading Achievement Test (Form A, 19730) dikenakan pada semua subjek. Tingkatan equivalen skor membaca untuk tingkat dua, empat, dan enam adalah sbb: tingkat 2,1-5,3 (M=4,1), tingkat 3,6-9,5 (M=5,8), tingkat 3,0-10,2 (M=7,2). Mean dari usia untuk setiap tingkatan adalah 8 bulan 2 tahun, 10 tahun 1 bulan, dan 11 tahun 11 bulan. (ibid:320)

1.2.2. Tugas

Tugas adalah seperangkat langkah (instruksi material) yang harus dilakukan oleh subjek-subjek dalam penelitian. Terbagi sesuai dengan variable-variable yang telah dikelompokkan. Penulis proposal penelitian harus membuat seperangkat tugas ini sesuai dengan kebutuhan tekhnik penelitian yang dilakukan. Peneliti harus dapat memastikan dahulu subjek-subjeknya, sebelum membuat tugas-tugas. Setiap subjek akan mendapatkan pola perlakuan yang sesuai dengan tata aturan penelitian yang akan dilakukan.

Contoh tugas:

Pada tiap-tiap sesi, subjek diminta untuk menerangkan cerita mengenai gambar-gambar dari buku Children Appreciation Test. Tiap satu cerita didahului dengan cerita yang dikatakan oleh pewawancara dengan gaya bahasa wawancara. (Tucman, 1972: 322)

1.2.3. Variabel Bebas

Pada bagian ini variabel (dan moderator) seharusnya digambarkan dengan masing-masing pokoknya yang terpisah. Itu dibagi menjadi dua tipe variabel bebas yang pertama bisa disebut variabel treatment. Pada kasus ini variabel treatment (itu sesuatu yang telah dimanipulasi), gambaran manipulasi atau bahan-bahan yang merupakan treatment (seperti,yang akan anda lakukan atau yang akan anda berikan). Menjadi cukup spesifik bahwa seseorang yang lain dapat direplikasi dengan treatment anda. Identifikasi masing-masing level dari treatment, masing-masing bagian diberi penekanan.

Contoh:

Dalam penguasaan pembelajaran kelas. Tutor sebaya mengoreksi test formatif seperti mereka dilengkapi oleh murid-murid. Murid-murid yang tidak mencapai level 85% akan bertanya untuk melengkapi pergulangan latihan dasar pada bagian yang tidak benar. Latihan ulang merupakan kunci pada masing-masing item pada test formatif dan pekerjaan murid hanya latihan ulang itu berkaitan pada bagian test formatif. Murid menulis ketika ia mulai mengerjakan latihan ulang dan ketika telah selesai dia kemudian diberi latihan ulang (Test formatif dengan bentuk pararel) dan diberi tahu untuk menjawab hanya item yang diulang, yang mana itu menjadi kunci pada latihan ulangannya. Sekali lagi siswa disuruh menulis ketika dia mulai tes dan ketika selesai tes.

Jika murid masih tidak bisa memenuhi kriteria levelnya (kombinasi bagian asli sesuai dengan tes formatif dengan tambahan bagian pararel sesuai dengan tes ulang). Dia akan mengulang proses pembetulan ulang ketiga dengan tutor sebagai pembantu dan bagian tes dari satu set pararel kedua. Guru menulis pada kertas murid-murid, ketika dia mulai membimbing murid dan ketika dia(murid) dilengkapi dengan pembimbing. Setiap murid yang menguasai akan mampu mencapai kriteria level 85% dengan lebih dua jam pelajaran pembetulan ulang.

Murid-murid pada grup yang tidak menguasai telah menyelesaikan pada pelajaran mereka. Setelah jam pelajaran, setelah mereka melaksanakan tes formatif aslinya pada masing-masing unit..Prosedur yang sama, ditindak lanjuti atas masing-masing 3 unit pembelajaran secara berurutan (Tuckman, 1972:323)

1.2.4. Variabel Terikat

Masing-Masing variable terikat, bergantung pada uraian(gambaran). Karena suatu variabel tergantung secara khas dan diukur oleh instrumen pengukuran itu, dalam prosedur membuat angka.

Berikut contoh :

Variabel Terikat

Skala variabel telah dan dikembangkan terutama untuk riset ini ( lihat Groobman, 1974, untuk detilnya ). Dengan singkat, ukuran sebagai berikut: ( a) Sikap Siswa ke arah sekolah dan pelajaran ( 11 materi), (b) Persepsi peran siswa dan harapan akademis ( 12 materi ); ( c ) Pendiri sekolah harus dihargai ( 10 materi );(d) Sikap siswa kepada para guru dan otoritas sekolah ( 10 materi) dan ( e) Perpindahan untuk menentukan sekolah ( 6 materi).

Materi adalah statemen bagi para siswa untuk menjawab pada suatu 5 skala titik yang berkisar antara perselisihan paham dan persetujuannya. Untuk mengoreksi suatu efek , beberapa materi pada setiap skala adalah kata-kata yang negatif. Masing-Masing skala telah dicapai arah yang dihipotesakan untuk menandai para siswa dalam sekolah formal.

Pada administrasi pertama dari instrumen ini, mengupas keandalan( yang diperkirakan dari Cronbach’S, 1951) yang bergerak dari 60 sampai 83. Keandalan ini yang secara otomatis tidak terbentuk melewati skala koreksi.

Ketrampilan akademis telah ditaksir dengan menuntut masing-masing siswa untuk menulis suatu esei pada topik tersebut ( Bagaimana Aku akan Mengubah Sekolah ku ) dan sesudah kode itu (menggunakan 4 titik pertimbangan)yaitu untuk mengeja, tata bahasa, dan kreativitas.

Suatu contoh 27 esei dari administrasi pertama dengan penjelasan yang bebas dinilai oleh empat Juri. Korelasi di atas 27 esei dan 91, 83 juga 81 untuk mengeja tatabahasa dan kreativitas yang berturut-turut. Esei yang sisanya secara acak dibagi-bagikan diantara Juri, untuk penilaian beban maksimum (Tuckman, 1972:325)

1.2.5. Prosedur

Bagian prosedur perlu menguraikan bagaimana detil operasional yang belum diuraikan dan peneliti yang lain itu akan perlu mengetahui metoda lain. Detil yang pada umumnya meliputi : (1) pesanan yang spesifik di mana langkah-langkah telah dikerjakan, ( 2 ) pemilihan waktu studi ( sebagai contoh, waktu di antara prosedur yang berbeda,( 3 ) instruksi diberikan kepada pokok, dan ( 4) pelatihan, juga perlindungan.

Pertimbangkan ilustrasi berikut:

Masing-Masing pokok memandang keduanya dengan Carrascolendas mengendalikan program itu lebih dulu, yaitu diproduksi pada tahun 1973-1974, di dalam kelompok selingan bebas yang tinggal di sekolah dan selama mereka pada jam sekolah umum. Masing-Masing kelompok homogen menyusun dalam menilai program pada hari yang berikutnya. Program yang ditunjukkan harus dirinci dan telah dimainkan kembali pada Sony videocassette pemain dari three-quarter inci, beberapa menit kemudian berada dalam Warna U-matic videocassettes, merek Scoth .

1.2.6. Analisa Data

Menguraikan disain statistik yang telah digunakan dan menganalisa pada umumnya bukan diperlukan untuk menguraikan prosedur ini secara bertahap. Jika tes statistik digunakan untuk orang-orang umum (seperti, analisa perbedaan, t-tests, chi-square analisa dan korelasi), kemudian test yang bisa dipastikan dan dinamai dengan menyesuaikan sumbernya. Pendekatan lebih diperlukan dari sesuatu yang detil.

Poin-Poin ini digambarkan dengan contoh sebagai berikut :

Contoh Analisa Data:

Hipotesis satu – empat adalah analisa perbedaan telah dijalankan, masing-masing variabel bebas dan salah satu dari empat variabel moderator seperti ditunjukkan di bawah ini :

(1). Sekolah menengah Tingkat-Ged Siswa dengan umur yang rendah dan tinggi.

(2). Sekolah menengah Tingkat-Ged Siswa dengan veteran-non veteran.

(3). Sekolah menengah Tingkat-Ged Siswa dengan penyempurnaan baru-tidak baru.

(4). Sekolah menengah Graduate-Ged Siswa dengan penutur asli.

Untuk variabel terikat grade-point rata-rata ( GPA)

Hipotesis lima – delapan adalah masing-masing diuji atas variasi dari mean chisquare test yang menggunakan ingatan-pengambilan kembali sebagai variabel yang bebas. Hipotesis telah diuji dengan menjalankan perkalian 4 yang baik dan analisa terpisah untuk masing-masing tingkatan dari tiap empat variabel moderator ( Catatan/Kertas Riset Siswa). (Tuckman. 1972:327)

Di dalam menyiapkan suatu proposal atau riset akhir melaporkan suatu uraian yang mungkin saja sangat perlu dan sungguh bisa diterima oleh penyediaan yang lebih detil pada setiap katagori di bagian metode yang dibandingkan dalam contoh riset bagian ini. Contoh ini telah terpilih untuk mereka. Kebanyakan dari contoh telah ditarik dari sumber jurnal, yang menempatkan suatu hadiah pada jarak(jangka waktu),dengan begitu menghasilkan seluruh style) Dalam rangka memperoleh beberapa gagasan untuk level detil dan membaca laporan format riset yang sama dapat kamu siapkan dalam uraian yang menguasai artikel jurnal untuk pembayaran serta harus diperhatikan untuk membentuk suatu riset. Kesempatan akan niscaya bangkit ketika studi tertentu akan memerlukan lebih sedikit kategori atau suatu perbedaan pesanan dibandingkan yang telah digunakan pada bagian ini.

1.3. HASIL

Tabel Dan Grafik pada umumnya penting bagi suatu hasil akhir, dengan teks yang menggambarkan kata-kata yang terlihat dalam tabel dan grafik ( Bagian 12.8 akan berhadapan dengan tabel dan bagian 12.9 dengan grafik) Cara yang terbaik ke struktur bagian hasil dalam kaitannya dengan hipotesis studi yang telah diperkenalkan ke hipotesis perjanjian yang akan menjadi judul yang pertama. (Hipotesis dua orang atau yang kedua, dan seterusnya,mendapat bagian yang tidak diperlukan, dalam belajar dengan hipotesis tunggal)

Masing-Masing pokok akan diikuti oleh suatu uraian ringkasan hipotesis yang baru,dan digunakan pada suatu grafik atau table yang sesuai dalam suatu statemen deskriptif . Hasil di dalam menguji hipotesis itu, Frasio F, t value(nilai t), korelasi, rata-rata,atau apapun juga,yang digunakan pada statistik. Uraian tentang hasil statistik akan berparalel dalam tabel, di mana data ini ditemukan.Anda akan menyimpulkan dengan menandakan apakah data sudah ditemukan.Anda akan menyimpulkan dengan menandakan apakah data membenarkan penerimaan atau penolakan hipotesis itu.

Suatu aturan umum adalah untuk menyiapkan teks itu dalam detail yang jelas dan sedemikian rupa sehingga pembaca dapat memahami hasil itu dengan pembacaan teks tersebut tanpa berkonsultasi tentang tabel/figur.Tabel dan figur harus disiapkan sedemikian rupa sehingga mereka dapat berdiri sendiri dalam gambaran hasil studi tersebut.

Contoh hipotesis dan hasilnya:

Hipotesis Satu

Hasil X 2 test adalah sangat penting ( X2= 12.74,df=1, p <. 00!) menunjukkan bahwa para orang tua siswa yang bekerja dan mempunyai suatu jabatan dan kedudukan, lebih mungkin untuk memilih suatu kursus ilmu pengetahuan dibandingkan orang tua mereka yang tidak bekerja atau mempunyai jabatan. Hipotesis yang batal dapat ditolak untuk tingkat yang lebih tinggi,artinya ( Lihat Tabel 1){ Lihat Studi III, Catatan tambahan A}

Hasil

Hipotesis pertama bahwa sikap para siswa diarahkan ke pengalaman sekolah mereka telah mengalami pelajaran umum yang lebih positif dan formal dibanding sekolah umum, F (3214)=2.79,p<.05. Walaupun para siswa dalam tahun kedua mereka mendapatkan tentang pendidikan informal yang merubah hal yang positif pada sikap mereka sehubungan dengan sekolah formal. Siswa di dalam tahun ketiga, mereka menunjukkan sesuatu perubahan yang lebih besar. Kecenderungan yang sama adalah kenyataan konfirmasi, F ( 3,214)=(3.00,p<05, tentang hipotesis yang kedua yaitu sikap para siswa kepada para guru dan kepada sekolah lain secara otoritas dalam hal positif lebih berfungsi tentang pengalaman sekolah informal.

Hipotesis e dan d meramalkan perubahan pada arah tentang harapan akademis yang lebih tinggi dan menimbulkan hal positif yang lebih mengagumi diri sendiri untuk para siswa sekolah yang informal dibanding untuk siswa sekolah formal ( Bukan ramalan yang telah ditetapkan Fs < 1Ns). (Tuckman, 1972:330)

1.4. DISKUSI

Pada bagian ini, peneliti masuk kedalam wilayah yang cukup pelik. Karena kreatifitas dari penulis teruji pada bagian ini, sejauh mana ia dapat meramu antara berbagai konsep dan materi yang telah dipaparkan sebelumnya, pada bagian pendahuluan dan metode. Yang perlu ditekankan adalah bahwa apa yang telah diungkap serta diangkat pada pendahuluan, harus dibahas di bagian diskusi ini. Penulis, secara subjektif, boleh mengungkapkan kekuatan analisisnya dalam rangka menjabarkan dan memperdalam hasil penelitian yang dilakukan.

1.4.1. Menyimpulkan

Pada bagian diskusi ini, hal yang paling ditunggu-tunggu dalam penelitian adalah kesimpulan. Seperti apakah hasil yang ditemukan dalam proses penelitian yang telah dilakukan. Peneliti harus dapat menyimpulkan penelitiannya berdasarkan analisis yang telah dilakukannya pada subjek-subjek penelitian. Dengan melakukan penyimpulan, artinya peneliti melakukan berbagai kategorisasi terhadap subjek yang ditelitinya berdasarkan konsep serta perlakuan yang sudah dulakukannya.

Semakin banyak hipotesis yang diberikan, semakin banyak pula jawaban yang didapatkan berdasar hipotesis tersebut. Karena pada dasarnya penelitian adalah menguji hipotesis. Benar-atau tidak hasil yang ditemukan, sangat bermanfaat dalam kajian-kajian ilmiah.

1.4.2. Menginterpretasi

Menginterpretasi atau menafsirkan, adalah hal yang wajib dalam penelitian. Seorang peneliti harus dapat memahami tiap-tiap bagian hipotesis yang telah diajukannya, dan menafsirkan hasil dari pendekatan yang dilakukannya. Tanpa ditafsirkan atau diinterpretasikan, data-data yang diperoleh tidak akan dapat dipahami, atau bahkan sama saja dengan tidak melakukan penelitian, kalau penelitiannya tidak memanfaatkan data-data statistik. Bila memanfaatkan data-data statistik, mungkin saja masih dapat dipahami oleh mereka yang memahami ranah-ranah statistik.

Ketika masuk pada tahap interpretasi ini, peneliti dapat menunjukkan apa yang telah dapat diketahui dalam penelitian itu serta bagaimana hubungan pengetahuan yang diperoleh itu dengan pengetahuan umum yang ada dilapangan.

1.4.3. Teorisasi

Dalam bentuk formatnya, penulis harus menyatakan secara tersurat dalam proposal penelitian yakni pada bagian pendahuluan beberapa teori yang digunakan dalam penelitian. Hal ini digunakan untuk membatasi dan memberikan landasan terhadap proses penelitian yang dilakukan. Pada akhirnya, ketika penelitian telah mendapatkan berbagai data yang didapatkan dari lapangan, seringkali data-data tersebut memberikan hasil-hasil yang penting dan dapat diintegrasikan kedalam beberapa penelitian atau teori besar yang ada. Atau bahkan data tersebut benar-benar uniq dan akhirnya dapat dijadikan sebagai sebuah rumusan atau teori baru yang orisinil.

1.4.4. Membuat Rekomendasi atau Penerapan

Hasil penelitian yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan, tentunya sangat bermanfaat dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga peneliti dapat mengajukan usulan-usulan atau rekomendasi berdasarkan hasil penelitiannya agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Dalam penelitian pendidikan, hasil penelitian selalu menjadi barometer dalam melaksanakan prosesi pendidikan, untuk menghasilkan metode pengajaran atau output pendidikan yang lebih baik.

1.4.5. Memberikan Masukan / Sugesti

Pemberian masukan didasarkan kepada hasil penelitian yang dilakukan. Kesimpulan dari hasil-hasil penelitian tersebut sioleh sedemikian rupa, sehingga pada akhirnya dapat dirumuskan usulan-usulan penting yang bermanfaat kepada khalayak umum. Penelitian yang didasarkan pada proyek-proyek tertentu, pada akhirnya harus membuat formulasi masukan sesuai dengan tujuan utama proyek penelitian tersebut. Dalam penelitian kelas misalnya, seorang peneliti dapat mengusulkan hasul-hasil yang didapatkannya kepada lembaga apa saja yang bersangkutan dengan kebijakan pendidikan.

1.5. REFERENSI

Ada satu variabel yang bentuknya berbeda untuk digunakan sebagai referensi, dua di antaranya akan dibahas di sini. Salah satunya digunakan di buku ini sebagaimodel jurnal psikologi atau lebih dikenal dengan Journal Of education Psychology. Bentuk ini menggambarkan secara detail tentang Publication Manual of the America Psychological Association. Pada bentuk ini, footnote atau catatan kaki tidak digunakan untuk mengutip referensi atau sumber data. Agaknya, sumber data yang dikutip dalam teks dengan menggunakan nama pengarang dan tahun cetakan buku. Sebuah kepala kepustakaan menggunakan pada akhir laporan termasuk kepustakaan penuh untuk penyusunan abjad pada nama pengarang.

Contoh Penulisan referensi:

Danner, F.W. Children’s understanding of itersentences organization in the recall of short descriptive passages. Journal of Educational Psycology, 1976, 68, 174-183.

Refensi dari sebuah buku lain dapat berbentuk sebagai berikut :

Tuckman, B.W. Measuring Educational Outcomes. Fundamentak of Testing. New York : Harcourt Brace Javanovich, 1975.

Bila mengikuti penulisan ilmiah UNESA;

Tuckman, B.W. 1975. Measuring Educational Outcomes. Fundamentak of Testing. New York : Harcourt Brace Javanovich.

1.6. ABSTRAK

Artikel journal dan laporan penelitian lain mempunyai bentuk penerimaan penulisan abstrak melalui standar penulisan. Nomer dari abstrak biasanya berukuran standar. Tipe desertasi memerlukan sebuah ringkasan atau lebih dikenal dengan sebutan abstraksi. Ini terdiri sekitar 600 – 1000 kata. Aturan penulisan abstraksi merupakan hal penting dari beberapa cara penulisan dan mungkin berdasar dari Campbell and Bollou (1974).

Sebuah abstraksi pendek untuk sebuah artikel jurnal atau makalah penelitian terdiri antara 100 –175 kata. Penulisannya dalam bentuk ‘hitam’ (tanpa identitas) dan kalimatnya lengkap. Abstraksi ini akan memuat pendapat atas (a) permasalahan, (b) metode, (3) hasil, dan (4) kesimpulan.

Contoh abstak:

Abstract

The study investigated the validity the studwnt rating of instuction for different lecturer types. Two hundred and twelve college student were divided into 12 equivalent group. Group viewed the lecture that varied in substantive teaching point covered (high, medium, low) and expressiveness of delivery(high, medium). Half were offered an incentive to earn before the lecrure; the other half efter the lecture. Student the rated lecture affedtiveness and completed an achievement test. Higher, achievement was association with more content convered (p, .0001) and before lecture-lecture incentive (p = .007). Different in lecture expressiveness did not affest achievement. Student rating generally reflected differences in content convered under low expressiveness comditions (p , .05), but were not sensitive to variation in content converage when lecture were high in expressiveness.

1.7. PENYIAPAN TABEL

Tabel adalah hal yang penting yang diguanakan pada sebuah presentasi. Keduanya (hasil) tes statistik dan nilai dari standar deviasi. Analisis atribut dan korelasi adalah tes statistik yang merupakan hasil dari bentuk pelaporan yang tersusun dalam bentuk table.

clip_image002

Tabel 121 merupakan analisis variasi dari hasil belajar, waktu belajar, dan evaluasi pada pelajar dengan menggunakan metode eksperimen (A), dan struktur kepribadian pelajar (B). (From J.M. Elliot and B.W. Tuckman, Differentiated Outcomes Resulting from Individualized Instruction at a two year college. Community/Junior College Research Quarterly, 1976. 1, 1-12. Reprinted by permission of the author and publisher).

clip_image004

Maksud dari tabel 122 hasil belajar, waktu belajar dan evaluasi yang dilakukan pada pelajar untuk pelajar yang berbeda kepribadiannya dalam dua lingkungan instrumen. (From J.M. Elliot and B.W. Tuckman, Differentiated Outcomes Resulting from Individualized Instruction at a two year college. Community/Junior College Research Quarterly, 1976. 1, 1-12. Reprinted by permission of the author and publisher).

clip_image006

Catatan : Untuk setiap variabel, nilai F yang paling atas merupakan korespondensi atas-bawah sampai pada program 1, dan kemudian diikuti dengan program kedua di bawahnya. Nilai F koresponden pada kelompok persukuan rata-rata berpengaruh pada analisis kovarian, setiap bagian menjadi dasar pada bagian 3, 297df. Ini mengidentifikasikan di mana kelompok persukuan itu tidak berpengaruh pada penelitian tingkat siognifikasi.

Tabel 12.3 Merupakan pengaruh signifikasi persukuan kelompok dari variabel penayangan pada televisi.(From L.M. Laosa, Viewing bilingual ethnic group effects on television-viewing variables. Pirical analiysis of children’s behaviour during television viewing, Journal of Educational Psychology, 1976, 68,133-142. copyright 1976 by the American Psychological Association. Reprinted by permission).

Tabel 12.1 sebuah analisis variasi table menunjukkan sumber yang berbeda, tinkatan kebebasan (df) kelompok dengan keistimewaan sumber, dari variasi (ms) untuk pengaruh dan kesalahan masa atau waktu, dan F rasio untuk masalah dampakdan hubungan. Studi ini meliputi dua instruksi metode (variable A) di mana lebih ditekankan pada dua tipe perorangan (variable B). Kebanyakkan penulisan nama juga membuat satu tabel utama. Tabel 12.2, table 12.3 adalah contoh table yang dianggap lebih penting dan analisis dari kombinasi hasil ke dalam satu table. Tabel 12.4, 12.5, dan 12.6 adalag contoh table penggunaan hubungan korelasi

Contoh akhir dari presentasi yang ditabelkan adalah hasil (yang tidak memenuhi keutamaan dalam table) adalah adanya kemungkinan table dan hasil digunakan dalam hubungan dengan analisis chisomare. Lihat table 12.7 dan 12.8.

Untuk informasi lebih lanjut tentang pembuatan yabel, baca buku Campbell and Bollou (1974), Form and Style Theses, Report, and Term Papers and American Psychological Association (1974) Publication Manual. Ini bias merupakan sebuah petunjuk pembuatan desain (kerangka) juga tes table dan bentuk dengan pendekatan mereka dalam sebuah artikel jurnal.

clip_image008

Catatan : kovensiensi di bawah garis koresponden pada program 1 : koefisiensi yang mengikuti garis diagonal koresponden pada program 2. Setiap koefisien merupakan dasar pada N 385.

p < 05

p < .01

p < .001

Tabel 12.4 adalah interkorelasi antara kelakuan anak-anak yang menjadi penonton televisi.(From L.M. Laosa, Viewing bilingual ethnic group effects on television-viewing variables. Pirical analiysis of children’s behaviour during television viewing, Journal of Educational Psychology, 1976, 68,133-142. copyright 1976 by the American Psychological Association. Reprinted by permission).

clip_image010

Tabel 12.5 korelasi acuan dan faktor muatan untuk bagian sosiogram. (From J.B. Victor, Peer judgedment of teaching competence as a function of field independence and dagmatism, journal of Experimental education, 1976, 44 (No.3), 10-13. Reprinted by permission of the author and the publisher).

clip_image012

Tabel 12.6 Correlation matrix for variable,. (From J.B. Victor, Peer judgedment of teaching competence as a function of field independence and dagmatism, journal of Experimental education, 1976, 44 (No.3), 10-13. Reprinted by permission of the author and the publisher).

clip_image014

Tabel 12.7 perbandingan pendaftaran antara laki-laki dan perempuan pada pemilihan ilmu pengetahuan antara pelajar-pelajar dimana orang tua tidak bekerja pada bidang lembaga ilmu pengetahuan (From Sample Study III, Appendix A).

clip_image016

Tabel 12.8 hasil perkalian nilai keseluruhan dari responden pada survey pada pelajar dengan tiga kelopok eksperimental. (From P.R. Widick, The training of preservice elementary school teacher in the procces es of science. Journal of experimental Education, 1976,44 (no.3), 57-62. reprinted by permission of the autror and the publisher).

Tabel sering menamakan penggunaan roda dalam bagian metode dengan menerapkan pada banyak situasi, kerangka eksperimental, rangkaian subyek pada studi yang kompleks. Tabel 12.9 menggambarkan penggunaan table untuk yang besar, studi yang lengkap meliputi nilai rata-rata dan standar deviasi untuk kelompok dalam sebuah nomer variable yang dikontrol.

Tipe table ini memberikan seksi metode di bawah subyek mdan membantu mengklarifikasi dalam studi yangelbih berisi dan menyeluruh.

1.8. PEYIAPAN BAGAN STATISTIK DAN GAMBAR

Sering ilmu hitung dihgunakan dalam mempresentasiukan suatu hasil. Mengkoleksi data melebihi waktu yang sering menyetujui presentasi grafik dengan menggunakan interaksi data statstik, rata-rata dan juga perhitungan-perhitungan. Kerangka 12.2 mengukur frekuensi kejadian dalam suatu waktu (dalam suatu keadaan, perkara, penyerangan dan lain-lain).

Sebagai ilustrasi (penggambaran) dari akhir sebuah interakdi yang aktif dari variable-variabel , bagan 12.3. menunjukkan kombinasi angka-angka dari variable yang penting dengan hasil yang didahului studi untuk menjelaskan hubungan yang interaktif.

clip_image018

Catatan : Status dari kepala rumah tangga dengan menggunakan pengukuran yang mengikuti skala : 0 = pensuinan pegawai, 1 = buruh tani, 2 = pegawai tanpa keahlian, 3 = pegawai dengan sedikit kemampuan, 4 = pegawai ahli, 5 = pengawas pertanian, 6 = pegawai berdasi, 7 = pemimpin perusahaan kecil, 8 = profesioanal, 9 = pemimpin perusahaan besar.

Tabel 12.9 subyeknya berupa bagan dan karakteristik .(From L.M. Laosa, Viewing bilingual ethnic group effects on television-viewing variables. Pirical analiysis of children’s behaviour during television viewing, Journal of Educational Psychology, 1976, 68,133-142. copyright 1976 by the American Psychological Association. Reprinted by permission).

.clip_image020clip_image022clip_image024

KEPUSTAKAAN

Hatch, Evelyn & Hossein Farhady. 1982. Research Design And Statistics For Applied Linguistics. Los Angeles: Newbury House Publishers. INC.

Tuckman, Bruce W. 1972. Conducting Educational Research. New York: Harcourt Brace Jovanovich.

Furchan, Arief. 1982. Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.

Demikian ulasan komprehensif kafeilmu tentang bagaimana cara menulis proposal penelitian yang dapat diaplikasikan untuk berbagai keperluan penelitian, baik untuk makalah, skripsi, tesis atau disertasi, PTK, dan lain-lain. Anda dapat berdiskusi dengan menuliskan komentar Anda di kolom komentar. Semoga bermanfaat.

Oleh: Hizbulloh Huda (aka Kang Bull)

Tags: menulis proposal, perbedaan proposal riset dan laporan riset, pendahuluan harus ditulis dengan cermat mengapa?, penelitian relevan menulis resensi, menulis [proposal penelitian budaya, Mengapa bagian pendahuluan perlu sekali ditulis dalam suatu usulan penulisan dengan cermat?, langkah langkah membuat proposal penelitian pendidikan, karakteristik penelitian penjas menurut tuckman

Blogger Indonesia yang suka dengan wacana sosial kemasyarakatan, suka menulis tentang bahasa, sastra dan teknologi informasi. Follow my +Kang Bull, email, Twitter or my Facebook.

Mari berbagi pengetahuan dengan menyebarkan artikel ini melalui akun sosial, Facebook, Twitter, dan Google+ Anda. Kebiasaan kecil dan ringan tapi besar untuk menambah wawasan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>