Dalam pembahasan ilmu psikologi kali ini, kafeilmu akan sedikit mengulas beberapa tokoh psikologi sosial antara lain: Alfred Adler, Erich Fromm, Karen Horney, dan Harry Stack Sullivan. Tiap pembahasannya akan disesuaikan menurut para ahli psikologi sosial ini. Dengan pembahasan per tokoh ini Anda akan lebih mudah mengambil pengertian psikologi sosial menurut ahlinya. Anda akan lebih mudah pula mengklasifikasi peta teori, baik melalui sejarah maupun ruang lingkupnya.

Ahli Psikologi Sosial (Daftar Isi):

  1. Alfred Adler
  2. Erich Fromm
  3. Karen Horney
  4. Harry Stack Sullivan

Latar Belakang Psikologi Sosial

Psikologi Sosial Menurut Alfred Adler

Psiokologi Individual

Latar belakang psikologi sosial Freud yang mendasarkan pada gejala individual sebagai bawaan lahir, dan bahwa tingkah laku manusia di dorong oleh insting- insting yang di bawa sejak lahir dengan aksioma pokok, ditolak Alfred Adler secara tajam.

Prespektif teori psikologi ala Adler ini mendasarkan bahwa manusia pertama-tama dimotivasikan oleh dorongan-dorongan sosial. Dorongan sosial adalah sesuatu yang dibawa sejak lahir, meskipun tipe-tipe khusus berhubungan dengan orang dan pranata-pranata sosial yang berkembang di tentukan oleh corak masyarakat tempat orang itu dilahirkan.

Ciri- Ciri teori Adler:

1. Adler menekankan minat sosial.

2. Konsep Adler mengenai konsep diri yang kreatif.

3. Tekanannya pada keunikan kepribadian.

teori-psikologi-sosial

Ruang Lingkup Pandangan psikologi individual Adler meliputi hal-hal berikut:

1. Finalisme Fiktif. Manusia hidup dengan banyak cita- cita yang semata- mata bersifat fiktif, yang tidak ada padanannya dalam kenyataan. Adler menemuka ide bahwa manusia lebih dimotivasikan oleh harapan- harapannya tentang masa depan dari pada pengalaman- pengalaman masa lampaunya. Adler tidak percaya pada nasip maupun takdir, bentuk perjuangan cita- cita yang mempengaruhi tingkah laku sekarang.

2. Perjuangan Ke Arah Superioritas. Adler menggantikan hasrat akan kekuasaan dengan perjuangan ke arah superioritas. Ada 3 tahap dalam pemikiran Adler tentang tujuan final manusia, yakni: menjadi agresif, menjadi berkuasa, dan menjadi superior. Superior yang dimaksudkan Adler adalah sesuatu yang sangat mirip dengan konsep Jung tentang diri atau konsep aktualisasi diri dari Goldstein. Superior adalah perjuangan menuju ke arah kesempurnaan. Dari lahir sampai mati , perjuangan ke arah superioritas itu membawa sang pribadi ke satu tahap perkembangan ke perkembangan berikutnya yang lebih tinggi. Misalnya orang yang neurotik, memperjuangkan harga diri dan kekuasaan dengan kata lain menonjolkan egoistik , sedangkan orang normal memperjuangkan tujuan yang terutama bersifat sosial.

3. Perasaan Inferioritas dan Kompensasi. Perasaan inferior yakni perasaan yang muncul akibat kekurngan psikologis atau sosial yang dirasakan secara subjektif maupun perasaan yang muncul dari kelemahan atau cacat tubuh nyata. Selanjutnya Adler mengamati orang yang mempunyai organ cacat sering kali berusaha mengkompensasikan kelemahan itu dengan jalan memperkuatnya denga latihan intensif. Adler menyatakan bahwa perasaan inferioritas bukan suatu pertanda abnormalitas, melaikan bentuk penyempurnaan dalam kehidupan manusia.

4. Minat Kemasyarakatan. Menurut arti yang terdalam, minat sosial berupa individu membantu masyarakat mencapai tujuan terciptanya masyarakat yang sempurna. Minat sosial merupakan kompensasi sejati dan tak dapat dielakkan bagi semua kelemahan alamiah manusia. Adler yakin bahwa minat sosial adalah bawaan, manusia adalah makhluk sosial menurut kodratnya, bukan karena kebiasaan belaka. . Kecenderungan yang di bawa sejak lahir tidak bisa muncul secara spontan, tetapi harus ditumbuhkan lewat bimbingan dan latihan. Manusia dimotivasikan oleh minat sosial bawaan yang menyebabkan dia menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.

5. Gaya Hidup. Inilah slogan dari kepribadian Adler. Gaya hidup adalah prinsisp sistem dengan mana kepribadian individual berfungsi. Itulah prinsip yang menjelaskan keunikan seseorang. Gaya hidup terbentuk sangat dini pada masa anak- anak pada usia 4 atau 5 tahun, sejak itu pengalaman- pengalaman diasimilasikan dan digunakan sesuai gaya hidup yang unik. Gaya hidup sebagian besar ditentukan oleh inferioritas khusus, entah kayalan atau nyata yang dimiliki seseorang. Gaya hidup merupakan kompensasi dari suati inferioritas khusus. Apabila anak memiliki kelemahan fisik maka gaya hidup akan berwujud melakukan hal agar fisik kuat.

6. Diri Kreatif. Konsep ini merupakan puncak prestasi Adler sebagai teroritikus kepribadian. Diri kreatif merupakan jembatan antara stimulus- stimulus yang menerpa seseorang dan respon- respon yang diberikan orang yang bersangkutan terhadap stimulus itu. Pada hakikatnya , doktrin tentang diri kreatif itu menyatakan bahwa manusia membentuk kepribadiannya sendiri. Manusia membagun kepribadiannya dari bahan mentah hereditas dan pengalaman.

7. Penelitian Khas dan Metode Penelitian. Observasi empiris Adler dilakukan di likunga terapeutik, dan paling banyak berupa rekonstruksi tentang masa lampau sebagai mana diingat oleh pasien dan penilaian- penialaian atas tingkah laku sekarang berdasarkan laporan- lapora verbal.

8. Urutan Kelahiran dan Kepribadian. Sejalan dengan perhatiannya terhadap penentu sosial kepribadian, Adler mengamati bahwa kepribadian anak sulung , anak tengah dan anak bungsu dalam satu keluarga akan berlainan. Anak pertama mendapat banyak perhatian sampai anak kedua lahir, kemudian dia harus diturunkan dari posisi yang menyenangkan itu , harus membagi kasih sayang orang tua dengan bayi yang baru lahir. hal ini menyebabkan anak sulung bertingkah laku macam-macam, seperti membenci orang lain dan merasa tidak aman. Apabila orang tua bijal anak sulung akan menjadi anak yang bersifat melindungi dan bertangguang jawab. Ciri anak kedua/ tengah adalah ambisius. Ia cenderung memberontak atau iri, tetapi pada umumnya ia dapat menyesuaikan diri dengan lebih baik di banding kakak atau adiknya. Anak bungsu adalah anak yang dimanjakan, kemungkinan besar dia menjadi anak yang mengandung masalah dan menjadi orang dewasa yang neurotikyang tidak mampu menyesuaikan diri.

9. Ingatan-Ingatan Awal. Ingatan paling awal yang dapat dilaporkan seseorang merupakan kunci penting untuk memahami gaya hidup dasarnya. Misalnya, ingatan seorang pemuda yang dirawat karena menderita kecemasan berat, ia mengenang kembali suatu peristiwa di masa lampau sebagai berikut: Ketika saya berusia kira-kira 4 tahun, saya duduk di jendela dan meperhatikan sejumlah pekerja membangun sebuah rumah di seberang jalan, sementara ibuku merajut kaos kaki. Ingatan itu menunjukkan bahwa ketika masih kecil ia dimanjakan, dan fakta bahwa ia suka memperhatikan orang lain menunjukkan gaya hidupnya adalah seorang penonton, bukan partisipan. Ingatan-ingatan awal kini digunakan sebagai teknik proyektif.

10. Pengalaman Masa Kanak-Kanak. Ada tiga faktor penting jenis-jenis pengaruh awal yang mengakibatkan anak mudah tergelincir ke dalam gaya hidup yang salah, yaitu :

a. Anak-anak yang memiliki inferioritas-Inferioritas. Anak-anak yang memiliki kelemahan fisik atau jiwa menanggung beban berat dan mungkin merasa kurang mampu menghadapi tugas-tugas kehidupan. Mereka seringkali menganggap dirinya sebagai orang-orang yang gagal. Banyak orang terkemuka mulai hidup dengan menderita suatu kelemahan organik yang kemudian dikompensasikan.

b. Anak-anak yang dimanjakan. Anak-anak yang dimanjakan tidak mengembangkan perasaan sosial. Mereka menjadi orang lalim yang mengharapkan masyarakat menyesuaikan diri dengan keinginan-keinginan yang berpusat pada diri mereka sendiri.

c. Anak-anak terlantar. Anak-anak yang diperlakukan secara buruk pada masa kanak-kanak aakan menjadi musuh masyarakat ketika mereka menjadi dewasa. Gaya hidup mereka dikuasai oleh kebutuhan untuk balas dendam. Ketiga keadaan ini – kelemahan organik, pemanjaan, dan penolakan – menimbulkan konsepsi-konsepsi yang salah tentang dunia dan mengakibatkan suatu gaya hidup yang patologis.

 

Psikologi Sosial Menurut Erich Fromm

Kepribadian Marxian

psikologi-kepribadian

Tema dasar dari seluruh tulisan Fromm adalah orang yang merasa kesepian dan terisolasi karena ia dipisahkan oleh alam dan orang-orang lain. Keadaan isolasi ini tidak ditemukan dalam semua spesies binatang; itu adlah situasi khas manusia. Fromm mengembangkan tesis bahwa karena manusia menjadi semakin bebas dari abad ke abad, maka mereka juga makin merasa kesepian. Jadi kebebasan menjadi keadaan negatif dari mana manusia melarikan diri. Ada dua jawaban terhadap dilema ini. Seseorang dapat bersatu dengan orang-orang lain dalam semangat cinta dan kerja sama atau dapat menemukan rasa aman dengan tunduk kepada penguasa dan menyesuaikan diri dengan masyarakat. Seorang pribadi merupakan bagian tetapi sekaligus terpisah dari alam, merupakan binatang sekaligus manusia. Sebagai binatang, orang emmiliki kebutuhan-kebutuhan fisiologis tertentu yang harus dipuaskan. Sebagai manusia, orang memiliki kesadaran diri, pikiran dan daya khayal. Pengalaman-pengalaman khas manusia meliputi perasaan lemah lembut, cinta, perasaan kasihan, sikap-sikap perhatian, tanggung jawab, identitas, integritas, bisa dilukai, transendensi, dan kebebasan; nilai-nilai serta norma-norma. Ada lima kebutuhan yang berasal dari kondisi-kondisi eksistensi manusia, yaitu:

1. Kebutuhan akan keterhubungan. Berasal dari fakta bahwa manusia dalam menjadi manusiawi telah direnggutkan dari kesatuan primer binatang dengan alam. Binatang dilengkapi oleh alam untuk menanggulangi keadaan-keadaan yang harus dihadapinya, tetapi manusia dengan kemampuan berpikir dan berkhayalnya, telah kehilangan interdependensi intim dengan alam. Sebagai penggantinya, manusia harus menciptakan hubungan-hubungan mereka sendiri yang didasarkan cinta produktif.

2. Kebutuhan akan transendensi. Kebutuhan orang untuk menjadi orang yang kreatif dan bukan hanya menjadi makhluk belaka. Apabila dorongan-dorongan kreatif terhambat maka orang menjadi perusak.

3. Kebutuhan akan keterberakaran. Manusia mendambakan akar-akar alamiah; mereka ingin menjadi bagian integral dunia, merasakan bahwa mereka memilikinya.

4. Kebutuhan akan identitas. Orang ingin memiliki suatu perasaan identitas pribadi, menjadi seorang individu yang unik. Apabila orang tidak bisa mencapai tujuan ini melalui usaha kreatifnya sendiri, ia bisa mendapatkan dengan menidentifikasikan diri dengan orang atau kelompok lain.

5. Kebutuhan akan kerangka orientasi. Manusia perlu memiliki suatu kerangka acuan, yakni suatu cara yang stabil dan konsisten dalam memandang dan memahami dunia. Kepribadian orang berkembang menurut kesempatan-kesempatan yang diberikan kepadanya oleh masyarakat tertentu. Penyesuaian diri seseorang dalam masyarakat biasanya merupakan kompromi antara kebutuhan-kebutuhan batin dan tuntutan-tuntutan dari luar. Ia mengembangkan karakter sosial dengan memenuhi harapan-harapan masyarakat. Ada lima karakter sosial yang ditemukan dalam masyarakat dewasa ini, yakni reseptif, eksploitatif, penimbunan, pemasaran dan produktif. Tipe-tipe ini melukiskan cara-cara yang berbeda dengan mana individu-individu dapat berhubungan dengan dunia dan dengan satu sama lain. Hanya tipe yang terakhir (produktif) yang dianggap sebgai sesuatu yang sehat. Ditemukan tiga tipe karakter sosial pokok, yakni: penimbunan-produktif, eksploitatif-produktif, reseptif- tidak produktif. Karakter (kepribadian) mempengaruhi dan dpengaruhi oleh struktur sosial dan perubahan sosial.

 

Psikologi Sosial Menurut Karen Horney

Psikoanalisis Sosial

psikologi-sosial

Konsep utama Horney adalah kecemasan dasar. Sejumlah faktor yang merugikan dalam lingkungan dapat menyebabkan anak merasa tidak aman. Umumnya, segala sesuatu yang mengganggu keamanan anak dalam hubungan dengan orang tuanya menimbulkan kecemasan dasar. Anak yang merasa tidak aman dan cemas menempuh berbagai siasat untuk menanggulangi perasaan-perasaan isolasi dan tidak berdayanya. Ada 10 kebutuhan yang diperoleh sebagai akibat dari usaha menemukan pemecahan-pemecahan terhadap masalah-masalah hubungan manusia yang terganggu. Kebutuhan-kebutuhan ini bersifat neurotik (irasional).

1. Kebutuhan akan kasih sayang dan penerimaan

2. Kebutuhan akan mitra yang bersedia mengurus kehidupan seseorang

3. Kebutuhan untuk membatasi kehidupan dalam batas-batas yang sempit.

4. Kebutuhan akan kekuasaan.

5. Kebutuhan untuk mengeksploitasi orang lain.

6. Kebutuhan akan prestise.

7. Kebutuhan akan kekaguman pribadi.

8. Kebutuhan akan prestasi pribadi.

9. Kebutuhan untuk berdiri sendiri dan independensi.

10. Kebutuhan akan kesempurnaan dan ketaktercelaan. Kesepuluh kebutuhan ini merupakan sumber yang menyebabkan konflik-konflik batin.

Kesepuluh kebutuhan ini diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok :

1. Bergerak menuju orang lain, misalnya kebutuhan akan cinta.

2. Bergerak untuk menjauhi orang lain, misalnya kebutuhan akan independensi.

3. Bergerak melawan orang lain, misalnya kebutuhan untuk berkuasa.

Orang normal dapat memecahkan konflik-konflik ini dengan mengintegrasikan ketiga orientasi itu. Sementara orang neurotik harus menggunakan pemecahan-pemecahan irasional serba dibuat-buat karena ia mengalami kecemasan dasar yang lebih berat. Semua konflik dapat dihindarkan dan dipecahkan kal anak dibesarkan dalam keluarga dimana terdapat keamanan, kepercayaan, cinta, respek, toleransi dan kehangatan.

 

Psikologi Sosial Menurut Harry Stack Sullivan

Psikiatri Interpersonal

Struktur Kepribadian

lingkungan-otak-dan-psikologi

Organisasi kepribadian terdiri dari peristiwa-peristiwa antar pribadi, dan bukan peristiwa-peristiwa intra psikis. Kepribadian hanya memanifestasikan dirinya ketika orang bertingkah laku dalam hubungan dengan salah seseorang atau beberapa individu lain. Kepribadian merupakan pusat dinamik dari berbagai proses yang terjadi dalam serangkaian medan antar pribadi.

1. Dinamisme. Dinamisme didefinisikan sebagai pola transformasi energi yang relatif menetap, yang secara berulang memberi ciri kepada organisme selama keberadaannya sebagai organisme hidup. Transformasi energi adalah suatu bentuk tingkah laku. Dinamisme-dinamisme yang khas manusiawi adalah dinamisme-dinamisme yang memberi ciri kepada hubungan-hubungan antar pribadi seseorang. Suatu dinamisme biasanya memakai daerah atau bagian tertentu dalam badan seperti mulut, tangan, anus, dan alat kelamin untuk berinteraksi dengan lingkungan. Kebanyakan dinamisme bertujuan memuaskan kebutuhan-kebutuhan dasar organisme. Akan tetapi ada suatu dinamisme penting yang berkembang sebagai akibat dari kecemasan yang disebut dinamisme diri atau sistem diri.

2. Sistem Diri. Kecemasan adalah suatu produk dari hubungan-hubungan antarpribadi, yang berasal dari ibu dan diteruskan kepada bayi dan dalam kehidupan selanjutnya oleh ancaman-ancaman terhadap keamanannya. Untuk menghindari kecemasan aktual maupun potensial, orang-orang memakai berbagai macam tindakan protektif dan kontrol pengawas terhadap tingkah lakunya.

3. Personifikasi. Personifikasi adalah suatu gambaran yang dimiliki individu tentang dirinya sendiri atau orang lain. Personifikasi adalah perasaan, sikap, dan konsepsi kompleks yang timbul karena mengalami kepuasan kebutuhan atau kecemasan. Personifikasi-personifikasi yang dimiliki oleh sejumlah orang disebut stereotype. Inilah konsepsi-konsepsi yang diakui bersama, yakni ide-ide yang diterima secara luas di antara anggota-anggota masyarakat dan diwariskan dari generasi-generasi.

Proses Kognitif

Menurut Sullivan pengalaman diklasifikasikan menjadi 3 golongan yaitu :

1. Pengalaman prototaksik. Dipandang sebagai rangkaian keadaan sesaat yang terpisah pisah dari organisme yang melakukan penginderaan.

2. Cara berpikir pratataksik. Melihat hubungan kausal antara peristiwa peristiwa yang terjadi kira kira pada saat yang sama tetapi yang tidak berhubungan secara logis.

3. Cara berpikir sintaksik. Merupakan aktivitas lambang yang diterima bersama, terutama aktivitas lambang yang bersifat verbal.

Dinamika Kepribadian

Sullivan memandang kepribadian sebagai suatu sistem energi yang fungsi utamanya adalah melakukan aktivitas-aktivitas yang akan mereduksikan tegangan.

1. Tegangan. Menurut Sillivan ada 2 sumber utama tegangan yaitu :1) Tegangan-tegangan yang disebabkan oleh kebutuhan-kebutuhan organisme. Kebutuhan-kebutuhan berkaitan dengan syarat-syarat kehidupan yang sifatnya fisiokimiawi, seperti keadaan kekurangan makanan, air, atau oksigen yang menimbulkan disekuilibrium (ketidakseimbangan) dalam tata organisme. Kebutuhan-kebutuhan yang berada di tingkat lebih rendah harus dipuaskan sebelum sampai kepada kebutuhan-kebutuhan yang berada pada tingkat yang lebih tinggi. 2) Tegangan-tegangan sebagai akibat dari kecemasan. Kecemasan adalah penghayatan tegangan akibat adanya ancaman-ancaman nyata atau luarnya dibayangkan terhadap keamanan seseorang. Kecemasan yang hebat mereduksikan efisiensi individu-individu dalam memuaskan kebutuhan-kebutuhannya, mengganggu hubungan-hubungan antarpribadi, dan mengacaukan pikiran.

2. Transformasi Energi. Energi ditransformasikan dengan melakukan pekerjaan. Pekerjaan bisa berupa kegiatan-kegiatan yang melibatkan otot-otot badan atau berupa kegiatan-kegiatan mental seperti persepsi, ingatan, dan berpikir. Kegiatan-kegiatan yang terbuka ataupun yang sembunyi ini bertujuan untuk mengurangi tegangan. Kegiatan-kegiatan ini pada umumnya ditentukan oleh masyarakat di mana orang dibesarkan.

Perkembangan Kepribadian

Sullivan menguraikan secara terperinci mengenai urutan situasi situasi antarpribadi yang dialami orang selama berkembangnya sejak masa bayi sampai masa dewasa dan cara-cara bagaimana situasi-situasi ini ikut membentuk kepribadian. Sullivan mengemukakan suatu pandangan yang lebih bersifat psikologi- sosial tentang perkembangan kepribadian, suatu pandangan di mana pengaruh-pengaruh yang unik dari hubungan-hubungan manusia diberi peranan yang semestinya. Sullivan menguraikan enam tahap perkembangan kepribadian sebelum tahap kematangan yang terakhir dicapai. Keenam tahap tersebut adalah :

1. Masa bayi. Masa bayi mulai dari lahir sampai saat belajar berbicara. Ini adalah masa di mana daerah oral merupakan daerah utama dalam interaksi antara bayi dan lingkungannya. Perawatan yang diberikan ibu memberikan bayi pengalaman antarpribadi yang pertama.

2. Masa kanak-kanak. Peralihan dari masa bayi ke masa kanak kanak dimungkinkan oleh perkembangan bahasa dan organisasi pengalaman secara sintaksik. Masa kanak-kanak berlangsung sejak anak mulai bisa mengucapkan kata-kata sampai timbulnya kebutuhan akan kawan kawan bermain.

3. Masa juvenile (pueral). Tahap juvenile berlangsung sepanjang sebagian besar tahun-tahun sekolah dasar. Inilah masa untuk belajar menjadi sosial, memperoleh pengalaman-pengalaman tunduk pada tokoh tokoh autoritas di luar keluarga, bersaing dan bekerjasama, mempelajari arti mengasingkan diri dari pergaulan, penghinaan, dan perasaan kelompok.

4. Masa pra-adolesen. Masa pra-adolesen yang relatif singkat ditandai oleh kebutuhan akan hubungan yang akrab dengan kawan sejenis, sahabat yang dapat dipercaya dan dapat bekerjasama dalam melaksanakan tugas tugas dan memecahkan masalah-masalah hidup. Inilah masa yang sangat penting karena masa ini menandakan permulaan hubungan-hubungan manusiawi sejati dengan orang-orang lain.

5. Masa adolesen awal. Tantangan utama masa adolesen awal adalah mengembangkan pola aktivitas heteroseksual. Sullivan mengemukakan bahwa banyak konflik masa adolesen timbul dari kebutuhan-kebutuhan akan kepuasan seksual, keamanan, dan keakraban yang saling berlawanan. Masa adolesen awal berlangsung sampai orang menemukan suatu pola perbuatan stabil yang memuaskan dorongan-dorongan genitalnya.

6. Masa adolesen akhir. Masa adolesen akhir merupakan suatu inisiasi yang agak panjang ke arah hak, kewajiban, kepuasan, dan tanggung jawab kehidupan sebagai warga masyarakat dan warga negara. Kemampuan untuk menjalin hubungan-hubungan antarpribadi lambat laun terbentuk secara matang dan berkembang pula kemampuan menghayati secara sintaksik yang memungkinkan perluasan horison-horison simbolis.

Demikian beberapa ulasan masalah psikologi sosial menurut para ahlinya. Kafeilmu senantiasa berusaha mencarikan rujukan-rujukan ilmiah yang bermanfaat dan bias digunakan sesame. Semoga bermanfaat.

Tags: teori psikologi sosial, teori psikologi sosial menurut para ahli, teori-teori psikologi sosial, Teori teori psikologi sosial, psikologi sosial menurut para ahli, tokoh psikologi sosial dan teorinya, sosial, contoh teori psikologi sosial

Blogger Indonesia yang suka dengan wacana sosial kemasyarakatan, suka menulis tentang bahasa, sastra dan teknologi informasi. Follow my +Kang Bull, email, Twitter or my Facebook.

Mari berbagi pengetahuan dengan menyebarkan artikel ini melalui akun sosial, Facebook, Twitter, dan Google+ Anda. Kebiasaan kecil dan ringan tapi besar untuk menambah wawasan kita.

One thought on “Teori Psikologi Sosial Para Ahli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>