Anak Jalanan – Masih ingat dengan posting sebelumnya tentang definisi anak jalanan dalam pandangan ekonomi? Kali ini untuk memperlebar dan mengetahui lebih dalam tentang masalah anak jalanan ditinjau dari segi yang lain, Kafeilmu akan sedikit mengulas mengenai anak jalanan dalam pandangan ilmu sosiologi.

anak jalanan dalam sosiologi

Deskripsi Anak Jalanan dalam Ilmu Sosiologi

Istilah anak jalanan berkembang sedemikian rupa merambah berbagai lini. Mulai dari aspek sosial, ekonomi, dan pendidikan. Anak jalanan sebagai sebuah fenomena sosial, mempunyai definisi tersediri sesuai dengan cakupan bidang logos sosiologi. Berikut beberapa definisi anak jalanan dalam cakupan ilmu sosiologi.

Fenomena anak jalanan bukan hanya merupakan monopoli negara-negara berkembang, tetapi di negara-negara maju juga banyak bermunculan fenomena tersebut. Dalam istilah sosiologi, gejala tersebut sering dinamakan dengan deviant behavior atau perilaku yang menyimpang dari tataran masyarakat (Nugroho, 2000:77). Negara Indonesia yang notabene sebagai negara dunia ketiga, tidak lepas dari masalah anak jalanan. Banyak faktor yang menstimulasi munculnya fenomena anak jalanan, di antaranya adalah terpuruknya perekonomian bangsa akibat multi krisis sejak tahun 1997.

Menurut Dwi Astutik, selaku pembina lembaga Kharisma Surabaya, bahwa anak jalanan adalah anak usia (6–18 tahun) yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan karena sebab apapun, mereka yang sehari-harinya hidup di jalanan baik pengamen, pemulung, maupun penyemir sepatu (hasil wawancara, tanggal Juni 2005). Sedangkan apabila kita amati lebih lanjut akan tampak adanya dua pola hubungan yang terjalin antara anak jalanan dengan orangtuanya yakni:

  1. Anak yang masih pulang ke rumah dan berhubungan secara aktif dengan orangtua, yang kemudian disebut sebagai children on the street.
  2. Anak yang sama sekali atau hampir tidak pernah berhubungan dengan orangtuanya, yang kemudian disebut children off the street.
  3. Anak yang berasal dari keluarga yang hidup di jalanan. Walaupun anak-anak ini mempunyai hubungan kekeluargaan yang cukup kuat, tetapi hidup mereka terombang-ambing dari satu tempat ke tempat yang lain dengan segala resikonya, disebut children from families of the street.

Penggunaan istilah anak jalanan berimplikasi pada dua pengertian yang harus dipahami. Pertama, pengertian sosiologis, yaitu menunjuk pada aktifitas sekelompok anak yang keluyuran di jalan-jalan. Masyarakat mengatakan sebagai kenakalan anak, dan perilaku merteka dianggap mengganggu ketertiban sosial. Kedua, pengertian ekonomi, yaitu menunjuk pada aktifitas sekelompok anak yang terpaksa mencari nafkah di jalanan karena kondisi ekonomi orangtua yang miskin (Nugroho, 2000:78).

Sebagaimana pembedaan Nugroho tersebut, secara definitif, istilah anak jalanan terbagi dalam dua batasan istilah.

  1. Pengertian Sosiologis: Anak jalanan adalah sekelompok anak yang keluyuran di jalan-jalan. Masyarakat menganggap sebagai anak nakal dan perilaku mereka mengganggu ketertiban sosial.
  2. Pengertian Ekonomi: Anak jalanan adalah sekelompok anak yang terpaksa mencari nafkah di jalanan karena kondisi ekonomi orangtua miskin.

Anak Jalanan dalam Pengertian Sosiologi

Memang tidak selalu berasal dari kondisi kemiskinan namun juga merupakan akibat dari kondisi keluarga yang tidak cocok bagi perkembangan si anak, misalnya produk keluarga broken home, orangtua yang terlalu sibuk sehingga kurang memperhatikan kebutuhan si anak, tidak ada kasih sayang yang dirasakan anak. Ketidak kondusifan tersebut memicu anak untuk mencari kehidupan di luar rumah, apa yang tidak ia temukan dalam lingkungan keluarga. Mereka hidup di jalan-jalan dengan melakukan aktifitas yang dipandang negatif oleh norma masyarakat.

Rata-rata mereka membentuk komunitas dan kelompok sosial tersendiri di luar kelompok masyarakat. Komunitas dan kelompok sosial tersendiri itu biasanya berbentuk Geng. Geng tersebut berfungsi sebagai keluarga bayangan bagi anak-anak yang bermasalah. Mereka merasa mendapatkan apa yang tidak didapat dalam keluarga. Kelompok sosial tersebut juga melahirkan sebuah strata sendiri. Anak jalanan dari golongan elite biasanya melakukan aktifitas kebut-kebutan dengan mobil dan corat-coret di dinding. Kemudian dari golongan lapisan menengah biasanya melakukan aktivitas kebut-kebutan dengan sepeda motor dan juga corat-coret di dinding. Dan produk lapisan bawah biasanya sering melakukan aktifitas nongkrong di jalan-jalan dan tidak jarang mengganggu orang yang sedang lewat.

Demikian sedikit penjabaran istilah anak jalanan merujuk pada dua mainstream, sosiologi dan ekonomi. Untuk penjabaran istilah anak jalanan dalam pengertian ekonomi, telah disertakan dalam posting selanjutnya.

Mengenai pendekatan pada masalah anak jalanan telah pernah di posting kafeilmu. Silahkan menuju posting tersebut untuk mengetahui bagaimana melakukan pendekatan pada masalah anak jalanan.

Ref: Heru Nugroho, Menumbuhkan Ide-ide Kritis, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000).

Tags: pengertian anak jalanan, definisi anak jalanan, makalah sosiologi tentang anak jalanan, deskripsi anak jalanan, TEKS EKSPOSISI TENTANG FENOMENA SOSIAL, teks eksposisi tema fenomena sosial, eksposisi bertema anak jalanan, teks eksposisi fenomena sosial

Blogger Indonesia yang suka dengan wacana sosial kemasyarakatan, suka menulis tentang bahasa, sastra dan teknologi informasi. Follow my +Kang Bull, email, Twitter or my Facebook.

Mari berbagi pengetahuan dengan menyebarkan artikel ini melalui akun sosial, Facebook, Twitter, dan Google+ Anda. Kebiasaan kecil dan ringan tapi besar untuk menambah wawasan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>